Kamis, 23 Oktober 2014

MAKALAH EPISTEMOLOGI ILMU PENGETAHUAN




BAB II
PEMBAHASAN

A.    Hakikat Epistemologi
Secara kebahasaan (etimologi), istilah epistemologi berasal dari bahasa Yunani yakniepisteme’ yang berarti pengetahuan dan ‘logos’ yang berarti ilmu. Epistemologi sebagai satu kesatuan kata yang aktif berarti ilmu tentang pengetahuan. Menurut  Imam Barnadib, epistemologi merupakan sebuah penjelasan tentang apa yang disebut pengetahuan, bagaimana cara manusia memperoleh atau menangkap pengetahuan tersebut dan jenis-jenis pengetahuan yang dihasilkan. Pandangan lain dikemukakan oleh (Milton D. Hunnex dalam Akhyar, 2014: 31), menyebutkan bahwa epistemologi adalah cabang filsafat yang membahas sifat dasar, sumber, dan validitas pengetahuan” (epistemology comprises the systematic study of the nature, sources, and validity of knowledge).
Pendapat lain dikemukakan oleh (Amsal Bakhtiar, 2004:148), epistemologi adalah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasar-dasarnya serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Metode empiris ini telah dibuka oleh Aristoteles dan mendapat sambutan besar pada zaman Renaisans dengan tokoh utamanya Francis Bacon. Menurut Bason, pengetahuan tidak akan mengalami perkembangan dan tidak akan bermakna kecuali ia mempunyai kekuatan yang dapat membantu manusia meraih kehidupan yang lebih baik.
Menurut Descartes, persoalan dasar dalam filsafat pengetahuan bukan bagaimana kita tahu, tetapi mengapa kita dapat membuat kekeliruan? Salah satu cara untuk menentukan sesuatu yang pasti dan tidak dapat diragukan ialah dengan melihat seberapa jauh hal itu bisa diragukan. Bila kita secara sistematis mencoba meragukan sebanyak mungkin pengetahuan kita, akhirnya kita akan mencapai titik yang tidak bisa diragukan sehingga pengetahuan kita dapat dibangun dalam kepastian absolut. Prosedur yang disarankan Descartes untuk mencapai kepastian ialah keraguan metodis universal, keraguan ini bersifat universal karena direntang tanpa batas, atau sampai keraguan ini membatasi diri. Artinya usaha meragukan itu akan berhenti bila ada sesuatu yang tidak dapat diragukan lagi. Usaha meragukan ini disebut metodik karena keraguan yang ditetapkan merupakan cara yang digunakan oleh penalaran reflektif filosofis untuk mencapai kebenaran (Amsal Bakhtiar, 2004:152).
B.     Sumber Pengetahuan
Sumber pengetahuan adalah apa yang menjadi titik-tolak atau apa yang merupakan objek pengetahuan itu sendiri. Sumber itu dapat bersifat atau berasal dari “dunia eksternal” atau juga terkait dan berasal dari “dunia internal” atau kemampuan subjek.
Dalam sejarah filsafat, Plato dan Aristoteles adalah dua filsuf yang memiliki pandangan yang berbeda terkait sumber pengetahuan. Plato disebut juga sebagai seorang rasionalisme klasik (sementara tokoh rasionalisme Modern adalah Descrates, Spinoza, Leibniz). Tokoh rasionalisme ini berpandangan bahwa sumber pengetahuan itu adalah rasio. Dengan kata lain, rasionalisme menempatkan posisi rasio (akal) sebagai sumber terpercaya dan utama bagi pengetahuan. Kaum rasionalis percaya bahwa proses pemikiran abstrak (rasional) dapat mencapai pengetahuan dan kebenaran fundamental yang tidak dapat disangkal  tentang (a) apa yang “ada” (tentang realitas) dan strukturnya serta (b) tentang alam semesta pada umumnya.
Menurut kaum rasionalis, realitas dan beberapa kebenaran tentang realitas dapat dicapai tanpa tergantung pada  pengamatan (pengalaman) atau tanpa penggunaan metode empiris. Karena itu, pengetahuan seperti ini sering disebut pengetahuan apriori (apriori knowledge, necessary knowledge) yang mendahului, berarti tidak tergantung atau mendahului pengalaman. Jadi pengetahuan apriori artinya pengetahuan yang diperoleh tanpa melalui pengalaman. Adapun cara kerja kaum rasionalisme adalah berdasarkan penalaran deduktif, logis, dan matematis.
Sementara itu, Aristoteles berpandangan bersebrangan dengan gurunya, Plato. Baginya, sumber pengetahuan adalah pengalaman. Aristoteles adalah tokoh empiris klasik (sementara itu tokoh-tokoh empiris Modern seperti Francis Bacon, John Locke, Berkeley, David Hume). Tokoh empirisme ini menyatakan bahwa ilmu pengetahuan harus didasarkan atas metode empris eksperimental, sehingga kebenarannya dapat dibuktikan. Empirisme dalam ilmu pengetahuan ini dalam perkembangan berikutnya kelak berkembang menjadi aliran positivisme, yang merumuskan pembedaan antara ilmu pengetahuan (science) dengan non-ilmu melalui kriteria verifikasi.
Dalam epistemologi Barat, dua pandangan ini, yakni rasionalisme dan empirisme, merupakan dua aliran yang paling banyak diterima dan paling dominan di antara sumber pengetahuan lainnya. Namun, di samping dua pandangan tersebut, ada juga beberapa pandangan yang menyebutkan sumber pengetahuan di luar rasionalisme dan empirisme tersebut. Bertrand Russell, misalnya, membedakan 2 macam pengetahuan. yaitu pertama adalah pengetahuan melalui pengalaman (knowledge by acquaintance) diantaranya yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui (a) data indrawi (sense data), (b) benda-benda memori (objects of memory), (c) keadaan internal (internal states) dan (d) diri kita sendiri (ourselves). Adapun yang kedua adalah pengetahuan yang diperoleh melalui (a) orang lain dan (b) benda-benda fisik, namun bukan hasil pengamatan akan tetapi konstruksi.
Di tulisan ini akan diterangkan sebisa mungkin menyangkut sumber-sumber pengetahuan yang dicantumkan baik oleh Hospers maupun oleh Honderich tersebut.
1.      Perception (Persepsi/Pengamatan Indrawi)
Persepsi adalah hasil tanggapan indrawi terhadap fenomena alam. Adapun istilah yang lebih umum untuk istilah persepsi ini adalah empiri atau pengalaman (empeira; experiential). Pengalaman merupakan sumber pengetahuan yang diterima dalam epistemologi.
2.      Memory (Ingatan)
Pengetahuan, baik secara teoritis maupun praktis, banyak sekali mengandalkan ingatan. Pengalaman langsung atau tidak langsung harus didukung oleh ingatan agar hasil pengalaman itu dapat disusun secara logis dan sistematis (menjadi pengetahuan).
3.      Reason (Akal, Nalar)
Akal diterima sebagai salah satu sumber pengetahuan. adapun pikiran atau penalaran adalah hal yang paling mendasar bagi kemungkinan adanya pengetahuan. Penalaran adalah proses yang harus dilalui dalam menarik kesimpulan. Ada hubungan yang erat antara metode (metodologi) dengan logika (penalaran)
4.      Intropection (introspeksi)
Introspeksi juga dianggap sebagai sumber pengetahuan di mana manusia mendapatkan pengetahuan (pengenalan atau pemahaman terhadap sesuatu) ketika ia mencoba melihat ke dalam dirinya.
5.      Intuition (intuisi)
Intuisi adalah “tenaga rohani”, suatu kemampuan yang mengatasi rasio, kemampuan untuk menyimpulkan serta memahami secara mendalam. Intuisi adalah pengenalan terhadap sesuatu secara langsung dan bukan melalui inferensi logis (deduksi-induksi).
6.      Authority (otoritas)
Otoritas mengacu kepada individu atau kelompok yang dianggap memiliki pengetahuan sahih dan memiliki legitimasi sebagai sumber pengetahuan. otoritas juga dapat berasosiasi atau berarti negatif bila otoritas itu justru bersifat dominasi, menindas dan otoritasnya tidak absah. Otoritas ini dapat memasuki dunia politik, kehidupan religius dan moral. Dalam kehidupan masyarkat pra ilmiah dan pada masa abad pertengahan otoritas ini memegang peran penting sebagai sumber pengetahuan. sedangkan pada masa modern otoritas itu kemudian beralih melalui justifikasi ilmiah.
7.      Prekognition (Prakognisi)
Prakognisi ialah kemampuan untuk mengetahui sesuatu peristiwa yang akan terjadi. Misalnya Nosradamus, seorang yang terkenal karena memiliki kemampuan ini, mampu memberi peringatan akan terjadinya gempa bumi di San Francisco, dan mengemukakan akan terjadinya pembunuhan pada Presiden Kennedy jauh sebelum kejadian tersebut.
8.      Clairvoryance
Clairvoryance adalah kemampuan mempersepsi suatu peristiwa tanpa menggunakan indra. Seseorang ahli nujum yang mampu mengetahui barang anda yang hilang beberapa hari lalu, maka orang ini memiliki kemampuan clairvoyence.
9.      Telephaty (Telepati)
Telepati adalah kemampuan berkomunikasi tanpa menggunakan suara atau tanpa menggunakan bentuk simbolik lain, namun hanya dengan menggunakan kemampuan mental. Misalnya jika seseorang dapat mengetahui pikiran orang lain tanpa menggunakan salah satu bentuk komunikasi.
C.    Metode Ilmiah
Pengetahuan yang diperoleh oleh manusia melalui akal, indera dan lain-lain mempunyai metode tersendiri dalam teori pengetahuan, diantaranya adalah:


1.      Metode Induktif
Induksi yaitu suatu metode yang menyimpulkan pertanyaan-pertanyaan hasil observasi disimpulkan dalam suatu pernyataan yang lebih umum. Dan menurut suatu pandangan yang luas diterima, ilmu-ilmu empiris ditandai oleh metode induktif seperti gambaran mengenai hasil pengamatan dan penelitian orang sampai pada pernyataan-pernyataan universal. Dalam induksi, setelah diperoleh pengetahuan, maka akan dipergunakan hal-hal lain, seperti ilmu mengajarkan kita bahwa kalau logam dipanasi, ia mengembang, bertolak dari teori ini kita akan tahu bahwa logam lain yang jika dipanasi juga akan mengembang. Dari contoh di atas bisa diketahui bahwa induksi tersebut memberikan suatu pengetahuan yang disebut juga dengan pengetahuan sintetik.
2.      Metode Deduktif
Deduksi ialah suatu metode yang menyimpulkan bahwa data empirik diolah lebih lanjut dalam suatu sistem pernyataan yang runtut. Hal-hal yang harus ada dalam metode deduktif ialah adanya perbandingan logis antara kesimpulan-kesimpulan yang ada. Ada penyelidikan bentuk logis teori itu dengan tujuan apakah teori tersebut mempunyai sifat empiris atau ilmiah, ada perbandingan dengan teori-teori lain dan ada pengujian teori dengan jalan menerapkan secara empiris kesimpulan yang bisa diambil dari teori tersebut. Popper tidak pernah menganggap bahwa kita dapat membuktikan kebenaran-kebenaran teori dari kebenaran pernyataan tunggal  atau berkat kesimpulan-kesimpulan yang telah diverifikasikan, teori-teori dapat dikukuhkan sebagai kebenaran, contoh: jika penawaran besar, harga akan turun atau karena penawaran beras besar, maka harga beras akan turun.
3.      Metode Positivisme
Metode ini dikemukakan oleh August Comte, metode ini berpangkal dari apa yang telah diketahui, yang factual, yang positif. Ia mengenyampingkan segala uraian atau persoalan di luar yang ada sebagai fakta. Oleh karena itu, ia menolak metafisika. Apa yang diketahui secara positif adalah segala yang tampak dan segala gejala. Dengan demikian metode ini dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan dibatasi kepada bidang gejala-gejala saja.
4.      Metode Kontemplatif
Metode ini mengatakan adanya keterbatasan indera dan akal manusia untuk memperoleh pengetahuan, sehingga objek yang dihasilkan pun akan berbeda-beda harusnya dikembangkan suatu kemampuan akal yang disebut dengan intuisi. Pengetahuan yang diperoleh lewat intuisi ini bisa diperoleh dengan cara berkontemplasi seperti yang dilakukan oleh Al-Ghazali. Intuisi dalam tasawuf disebut dengan ma’rifah yaitu pengetahuan yang datang dari Tuhan melalui pencerahan dan penyinaran . Menurut Al-Ghazali, pengetahuan intuisi yang langsung disinarkan oleh Allah secara langsung merupakan pengetahuan yang paling benar. Pengetahuan yang diperoleh lewat intuisi ini bersifat individual.
5.      Metode Dialektis
Dialektika mula-mula berarti metode tanya jawab untuk mencapai kejernihan filsafat. Metode ini diajarkan oleh Socrates namun Plato mengartikan sebagai diskusi logika. Kini dialektika berarti tahap logika, yang mengajarkan  kaidah-kaidah dan metode-metode penuturan, juga analisa sistematik tentang ide-ide mencapai apa yang terkandung dalam pandangan kebenaran. Dalam kehidupan sehari-hari dialektika berarti kecakapan untuk melakukan perdebatan.
6.      Metode Abduksi
Abduksi adalah sebuah bentuk pembuktian berdasarkan silogisme. Pembuktian ini berbeda dengan pembuktian berdasarkan deduktif dan induktif. Menurut Pierce, abduksi merupakan satu model penalaran ilmiah atau cara pembuktian yang memungkinkan hipotesa-hipotesa dibentuk. Penalaran abduksi ini tidak memberikan kepastian mutlak misalnya, ada satu kasus atau fakta A yang menimbulkan tanda tanya. Lalu diajukan hipotesa B. Jika hipotesa B benar, maka fakta A adalah sesuatu yang biasa-biasa saja.
D.    Jenis-jenis Epistemologi
Ada beberapa jenis epistemologi, Menurut Sudarminta, epistemologi dibagi menjadi tiga jenis yaitu:
1.      Epistemologi Metafisis
Plato dan Hegel membicarakan pengetahuan bertolak dari pandangan tentang metafisika yang dianggap mendasari semua realitas. Pembedaan Plato antara dunia idea dengan dunia fisis (yang diasumsikan hanya sebagai tiruan dari dunia idea) sedangkan epistemologi Hegel yang bertolak dari asumsi metafisis, di mana baginya realitas hanya merupakan perwujudan dari roh.

2.      Epistemologi  Skeptis
Epistemologi Rene Descartes adalah sebagai upaya untuk menemukan metode yang pasti, sehingga filsafat dan pengetahuan dapat mengatasi berbagai perbedaan dan pertentangan pendapat yang muncul. Cara yang dilakukan Descartes untuk menemukan metode yang pasti itu adalah dengan kesangsian metodis.
3.      Epistemologi Kritis
Epistemologi kritis bertolak pada sikap kritis terhadap berbagai macam asumsi, teori, dan metode yang ada dalam pemikiran serta yang ada dalam kehidupan kita. Pengetahuan teori, metode, dan cara berpikir yang ada dikritisi artinya dicari kelemahan atau kekurangannya Kemudian diupayakan untuk merumuskan metode baru.








BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Epistemologi sebagai sebuah penjelasan tentang apa yang disebut pengetahuan, bagaimana cara manusia memperoleh atau menangkap pengetahuan tersebut dan jenis-jenis pengetahuan yang dihasilkan.
2.      Metodologi keilmuan meliputi; Induksi, Deduktif, Positivisme, Kontemplatif, Dialektis, Abduksi.
3.      Landasan teori kebenaran ilmiah yaitu; Korespondensi, Konsistensi atau Koherensi, Pragmatis, Performatif, Paradigmatis dan Konsensus.

B.     Saran
1.      Penulis menyarankan agar pembaca lebih memperbanyak lagi referensi-referensi mengenai wawasan epistemologi ilmu pengetahuan selain makalah ini. Ini dikarenakan oleh keterbatasan penulis dalam mencari referensi-referensi dalam penyusunan makalah ini.






DAFTAR PUSTAKA

Bakhtiar Amsal. 2004. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.
Suriasumantri Jujun. 2010. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar harapan
Muliawan Jasa Ungguh. 2008. Epistemologi Pendidikan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Lubis Akhyar Yusuf. 2014. Filsafat Ilmu: Klasik Hingga Kontemporer. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada




Tidak ada komentar:

Posting Komentar