BAB II
PEMBAHASAN
A.
Hakikat
Epistemologi
Secara kebahasaan (etimologi), istilah
epistemologi berasal dari bahasa Yunani yakni ‘episteme’ yang berarti pengetahuan dan ‘logos’ yang berarti ilmu. Epistemologi
sebagai satu kesatuan kata yang aktif berarti ilmu tentang pengetahuan. Menurut Imam Barnadib, epistemologi merupakan sebuah
penjelasan tentang apa yang disebut pengetahuan, bagaimana cara manusia
memperoleh atau menangkap pengetahuan tersebut dan jenis-jenis pengetahuan yang
dihasilkan. Pandangan lain dikemukakan oleh (Milton
D. Hunnex dalam Akhyar, 2014: 31), menyebutkan bahwa epistemologi adalah cabang
filsafat yang membahas sifat dasar, sumber, dan validitas pengetahuan” (epistemology comprises the systematic study
of the nature, sources, and validity of knowledge).
Pendapat
lain dikemukakan oleh (Amsal Bakhtiar, 2004:148), epistemologi adalah cabang
filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan,
pengandaian-pengandaian dan dasar-dasarnya serta pertanggungjawaban atas
pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Metode empiris ini telah dibuka
oleh Aristoteles dan mendapat sambutan besar pada zaman Renaisans dengan tokoh
utamanya Francis Bacon. Menurut Bason, pengetahuan tidak akan mengalami
perkembangan dan tidak akan bermakna kecuali ia mempunyai kekuatan yang dapat membantu
manusia meraih kehidupan yang lebih baik.
Menurut
Descartes, persoalan dasar dalam filsafat pengetahuan bukan bagaimana kita
tahu, tetapi mengapa kita dapat membuat kekeliruan? Salah satu cara untuk
menentukan sesuatu yang pasti dan tidak dapat diragukan ialah dengan melihat
seberapa jauh hal itu bisa diragukan. Bila kita secara sistematis mencoba
meragukan sebanyak mungkin pengetahuan kita, akhirnya kita akan mencapai titik
yang tidak bisa diragukan sehingga pengetahuan kita dapat dibangun dalam
kepastian absolut. Prosedur yang disarankan Descartes untuk mencapai kepastian
ialah keraguan metodis universal, keraguan ini bersifat universal karena
direntang tanpa batas, atau sampai keraguan ini membatasi diri. Artinya usaha
meragukan itu akan berhenti bila ada sesuatu yang tidak dapat diragukan lagi. Usaha
meragukan ini disebut metodik karena keraguan yang ditetapkan merupakan cara
yang digunakan oleh penalaran reflektif filosofis untuk mencapai kebenaran (Amsal
Bakhtiar, 2004:152).
B.
Sumber
Pengetahuan
Sumber
pengetahuan adalah apa yang menjadi titik-tolak atau apa yang merupakan objek
pengetahuan itu sendiri. Sumber itu dapat bersifat atau berasal dari “dunia eksternal” atau juga terkait dan
berasal dari “dunia internal” atau
kemampuan subjek.
Dalam
sejarah filsafat, Plato dan Aristoteles adalah dua filsuf yang memiliki
pandangan yang berbeda terkait sumber pengetahuan. Plato disebut juga sebagai
seorang rasionalisme klasik (sementara tokoh rasionalisme Modern adalah
Descrates, Spinoza, Leibniz). Tokoh rasionalisme ini berpandangan bahwa sumber
pengetahuan itu adalah rasio. Dengan kata lain, rasionalisme menempatkan posisi
rasio (akal) sebagai sumber terpercaya dan utama bagi pengetahuan. Kaum
rasionalis percaya bahwa proses pemikiran abstrak (rasional) dapat mencapai
pengetahuan dan kebenaran fundamental yang tidak dapat disangkal tentang (a) apa yang “ada” (tentang realitas)
dan strukturnya serta (b) tentang alam semesta pada umumnya.
Menurut
kaum rasionalis, realitas dan beberapa kebenaran tentang realitas dapat dicapai
tanpa tergantung pada pengamatan
(pengalaman) atau tanpa penggunaan metode empiris. Karena itu, pengetahuan
seperti ini sering disebut pengetahuan apriori
(apriori knowledge, necessary knowledge) yang mendahului, berarti tidak
tergantung atau mendahului pengalaman. Jadi pengetahuan apriori artinya pengetahuan yang diperoleh tanpa melalui
pengalaman. Adapun cara kerja kaum rasionalisme adalah berdasarkan penalaran
deduktif, logis, dan matematis.
Sementara
itu, Aristoteles berpandangan bersebrangan dengan gurunya, Plato. Baginya,
sumber pengetahuan adalah pengalaman. Aristoteles adalah tokoh empiris klasik
(sementara itu tokoh-tokoh empiris Modern seperti Francis Bacon, John Locke,
Berkeley, David Hume). Tokoh empirisme ini menyatakan bahwa ilmu pengetahuan
harus didasarkan atas metode empris eksperimental, sehingga kebenarannya dapat
dibuktikan. Empirisme dalam ilmu pengetahuan ini dalam perkembangan berikutnya
kelak berkembang menjadi aliran positivisme, yang merumuskan pembedaan antara
ilmu pengetahuan (science) dengan
non-ilmu melalui kriteria verifikasi.
Dalam
epistemologi Barat, dua pandangan ini, yakni rasionalisme dan empirisme,
merupakan dua aliran yang paling banyak diterima dan paling dominan di antara
sumber pengetahuan lainnya. Namun, di samping dua pandangan tersebut, ada juga
beberapa pandangan yang menyebutkan sumber pengetahuan di luar rasionalisme dan
empirisme tersebut. Bertrand Russell, misalnya, membedakan 2 macam pengetahuan.
yaitu pertama adalah pengetahuan melalui pengalaman (knowledge by acquaintance) diantaranya yaitu pengetahuan yang
diperoleh melalui (a) data indrawi (sense data), (b) benda-benda memori (objects of memory), (c) keadaan
internal (internal states) dan (d)
diri kita sendiri (ourselves). Adapun yang kedua adalah pengetahuan yang
diperoleh melalui (a) orang lain dan (b) benda-benda fisik, namun bukan hasil
pengamatan akan tetapi konstruksi.
Di
tulisan ini akan diterangkan sebisa mungkin menyangkut sumber-sumber pengetahuan
yang dicantumkan baik oleh Hospers maupun oleh Honderich tersebut.
1.
Perception (Persepsi/Pengamatan
Indrawi)
Persepsi
adalah hasil tanggapan indrawi terhadap fenomena alam. Adapun istilah yang
lebih umum untuk istilah persepsi ini adalah empiri atau pengalaman (empeira; experiential). Pengalaman
merupakan sumber pengetahuan yang diterima dalam epistemologi.
2.
Memory
(Ingatan)
Pengetahuan,
baik secara teoritis maupun praktis, banyak sekali mengandalkan ingatan.
Pengalaman langsung atau tidak langsung harus didukung oleh ingatan agar hasil
pengalaman itu dapat disusun secara logis dan sistematis (menjadi pengetahuan).
3.
Reason
(Akal, Nalar)
Akal
diterima sebagai salah satu sumber pengetahuan. adapun pikiran atau penalaran
adalah hal yang paling mendasar bagi kemungkinan adanya pengetahuan. Penalaran
adalah proses yang harus dilalui dalam menarik kesimpulan. Ada hubungan yang
erat antara metode (metodologi) dengan logika (penalaran)
4.
Intropection (introspeksi)
Introspeksi
juga dianggap sebagai sumber pengetahuan di mana manusia mendapatkan
pengetahuan (pengenalan atau pemahaman terhadap sesuatu) ketika ia mencoba
melihat ke dalam dirinya.
5.
Intuition (intuisi)
Intuisi
adalah “tenaga rohani”, suatu kemampuan yang mengatasi rasio, kemampuan untuk
menyimpulkan serta memahami secara mendalam. Intuisi adalah pengenalan terhadap
sesuatu secara langsung dan bukan melalui inferensi logis (deduksi-induksi).
6.
Authority (otoritas)
Otoritas
mengacu kepada individu atau kelompok yang dianggap memiliki pengetahuan sahih
dan memiliki legitimasi sebagai sumber pengetahuan. otoritas juga dapat
berasosiasi atau berarti negatif bila otoritas itu justru bersifat dominasi,
menindas dan otoritasnya tidak absah. Otoritas ini dapat memasuki dunia
politik, kehidupan religius dan moral. Dalam kehidupan masyarkat pra ilmiah dan
pada masa abad pertengahan otoritas ini memegang peran penting sebagai sumber
pengetahuan. sedangkan pada masa modern otoritas itu kemudian beralih melalui
justifikasi ilmiah.
7.
Prekognition (Prakognisi)
Prakognisi
ialah kemampuan untuk mengetahui sesuatu peristiwa yang akan terjadi. Misalnya
Nosradamus, seorang yang terkenal karena memiliki kemampuan ini, mampu memberi
peringatan akan terjadinya gempa bumi di San Francisco, dan mengemukakan akan
terjadinya pembunuhan pada Presiden Kennedy jauh sebelum kejadian tersebut.
8.
Clairvoryance
Clairvoryance adalah kemampuan mempersepsi suatu peristiwa tanpa
menggunakan indra. Seseorang ahli nujum yang mampu mengetahui barang anda yang
hilang beberapa hari lalu, maka orang ini memiliki kemampuan clairvoyence.
9.
Telephaty (Telepati)
Telepati
adalah kemampuan berkomunikasi tanpa menggunakan suara atau tanpa menggunakan
bentuk simbolik lain, namun hanya dengan menggunakan kemampuan mental. Misalnya
jika seseorang dapat mengetahui pikiran orang lain tanpa menggunakan salah satu
bentuk komunikasi.
C.
Metode Ilmiah
Pengetahuan
yang diperoleh oleh manusia melalui akal, indera dan lain-lain mempunyai metode
tersendiri dalam teori pengetahuan, diantaranya adalah:
1.
Metode
Induktif
Induksi
yaitu suatu metode yang menyimpulkan pertanyaan-pertanyaan hasil observasi
disimpulkan dalam suatu pernyataan yang lebih umum. Dan menurut suatu pandangan
yang luas diterima, ilmu-ilmu empiris ditandai oleh metode induktif seperti
gambaran mengenai hasil pengamatan dan penelitian orang sampai pada
pernyataan-pernyataan universal. Dalam induksi, setelah diperoleh pengetahuan,
maka akan dipergunakan hal-hal lain, seperti ilmu mengajarkan kita bahwa kalau
logam dipanasi, ia mengembang, bertolak dari teori ini kita akan tahu bahwa
logam lain yang jika dipanasi juga akan mengembang. Dari contoh di atas bisa
diketahui bahwa induksi tersebut memberikan suatu pengetahuan yang disebut juga
dengan pengetahuan sintetik.
2.
Metode
Deduktif
Deduksi
ialah suatu metode yang menyimpulkan bahwa data empirik diolah lebih lanjut
dalam suatu sistem pernyataan yang runtut. Hal-hal yang harus ada dalam metode
deduktif ialah adanya perbandingan logis antara kesimpulan-kesimpulan yang ada.
Ada penyelidikan bentuk logis teori itu dengan tujuan apakah teori tersebut
mempunyai sifat empiris atau ilmiah, ada perbandingan dengan teori-teori lain
dan ada pengujian teori dengan jalan menerapkan secara empiris kesimpulan yang
bisa diambil dari teori tersebut. Popper tidak pernah menganggap bahwa kita
dapat membuktikan kebenaran-kebenaran teori dari kebenaran pernyataan tunggal atau berkat kesimpulan-kesimpulan yang telah
diverifikasikan, teori-teori dapat dikukuhkan sebagai kebenaran, contoh: jika
penawaran besar, harga akan turun atau karena penawaran beras besar, maka harga
beras akan turun.
3.
Metode
Positivisme
Metode
ini dikemukakan oleh August Comte, metode ini berpangkal dari apa yang telah
diketahui, yang factual, yang positif. Ia mengenyampingkan segala uraian atau
persoalan di luar yang ada sebagai fakta. Oleh karena itu, ia menolak
metafisika. Apa yang diketahui secara positif adalah segala yang tampak dan
segala gejala. Dengan demikian metode ini dalam bidang filsafat dan ilmu
pengetahuan dibatasi kepada bidang gejala-gejala saja.
4.
Metode
Kontemplatif
Metode
ini mengatakan adanya keterbatasan indera dan akal manusia untuk memperoleh
pengetahuan, sehingga objek yang dihasilkan pun akan berbeda-beda harusnya
dikembangkan suatu kemampuan akal yang disebut dengan intuisi. Pengetahuan yang
diperoleh lewat intuisi ini bisa diperoleh dengan cara berkontemplasi seperti
yang dilakukan oleh Al-Ghazali. Intuisi dalam tasawuf disebut dengan ma’rifah yaitu pengetahuan yang datang
dari Tuhan melalui pencerahan dan penyinaran . Menurut Al-Ghazali, pengetahuan
intuisi yang langsung disinarkan oleh Allah secara langsung merupakan pengetahuan
yang paling benar. Pengetahuan yang diperoleh lewat intuisi ini bersifat
individual.
5.
Metode
Dialektis
Dialektika
mula-mula berarti metode tanya jawab untuk mencapai kejernihan filsafat. Metode
ini diajarkan oleh Socrates namun Plato mengartikan sebagai diskusi logika.
Kini dialektika berarti tahap logika, yang mengajarkan kaidah-kaidah dan metode-metode penuturan,
juga analisa sistematik tentang ide-ide mencapai apa yang terkandung dalam
pandangan kebenaran. Dalam kehidupan sehari-hari dialektika berarti kecakapan
untuk melakukan perdebatan.
6.
Metode
Abduksi
Abduksi
adalah sebuah bentuk pembuktian berdasarkan silogisme. Pembuktian ini berbeda
dengan pembuktian berdasarkan deduktif dan induktif. Menurut Pierce, abduksi
merupakan satu model penalaran ilmiah atau cara pembuktian yang memungkinkan
hipotesa-hipotesa dibentuk. Penalaran abduksi ini tidak memberikan kepastian
mutlak misalnya, ada satu kasus atau fakta A yang menimbulkan tanda tanya. Lalu
diajukan hipotesa B. Jika hipotesa B benar, maka fakta A adalah sesuatu yang
biasa-biasa saja.
D.
Jenis-jenis Epistemologi
Ada
beberapa jenis epistemologi, Menurut Sudarminta, epistemologi dibagi menjadi
tiga jenis yaitu:
1.
Epistemologi
Metafisis
Plato
dan Hegel membicarakan pengetahuan bertolak dari pandangan tentang metafisika
yang dianggap mendasari semua realitas. Pembedaan Plato antara dunia idea dengan dunia fisis (yang diasumsikan hanya sebagai tiruan dari dunia idea) sedangkan epistemologi Hegel yang
bertolak dari asumsi metafisis, di mana baginya realitas hanya merupakan
perwujudan dari roh.
2.
Epistemologi
Skeptis
Epistemologi
Rene Descartes adalah sebagai upaya untuk menemukan metode yang pasti, sehingga
filsafat dan pengetahuan dapat mengatasi berbagai perbedaan dan pertentangan
pendapat yang muncul. Cara yang dilakukan Descartes untuk menemukan metode yang
pasti itu adalah dengan kesangsian metodis.
3.
Epistemologi
Kritis
Epistemologi
kritis bertolak pada sikap kritis terhadap berbagai macam asumsi, teori, dan
metode yang ada dalam pemikiran serta yang ada dalam kehidupan kita.
Pengetahuan teori, metode, dan cara berpikir yang ada dikritisi artinya dicari
kelemahan atau kekurangannya Kemudian diupayakan untuk merumuskan metode baru.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
1. Epistemologi
sebagai sebuah penjelasan tentang apa yang disebut pengetahuan, bagaimana cara
manusia memperoleh atau menangkap pengetahuan tersebut dan jenis-jenis
pengetahuan yang dihasilkan.
2. Metodologi
keilmuan meliputi; Induksi, Deduktif, Positivisme, Kontemplatif, Dialektis, Abduksi.
3. Landasan
teori kebenaran ilmiah yaitu; Korespondensi, Konsistensi atau Koherensi,
Pragmatis, Performatif, Paradigmatis dan Konsensus.
B.
Saran
1. Penulis
menyarankan agar pembaca lebih memperbanyak lagi referensi-referensi mengenai wawasan
epistemologi ilmu pengetahuan selain makalah ini. Ini dikarenakan oleh
keterbatasan penulis dalam mencari referensi-referensi dalam penyusunan makalah
ini.
DAFTAR PUSTAKA
Bakhtiar Amsal. 2004. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Rajagrafindo
Persada.
Suriasumantri Jujun.
2010. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar
Populer. Jakarta: Pustaka Sinar harapan
Muliawan Jasa Ungguh.
2008. Epistemologi Pendidikan.
Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Lubis Akhyar Yusuf.
2014. Filsafat Ilmu: Klasik Hingga
Kontemporer. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada
Tidak ada komentar:
Posting Komentar